TUGAS
PERTEMUAN 4
NAMA : MUCH
AGFIANSYAH
NIM : 72200001
KELAS : 72.2B.07
MATA KULIAH : MEDAN ELEKTROMAGNETIK
DOSEN : IBU SRI WATMAH
Teori Listrik statis hukum columb dan hukum gauss , ,
study kasus, metode permasalahan, solusi, kesimpulan .
Source : https://www.dosenpendidikan.co.id/author/hisam/
https://www.dosenpendidikan.co.id/listrik-statis/
Author : hisam
Posting : 27 januari 2021
Publish :
https://www.dosenpendidikan.co.id/listrik-statis/
Jika sebuah benda mengalami kekurangan
atau kelebihan elektron maka benda tersebut dapat dikatakan bermuatan listrik.
Ada dua jenis muatan listrik, yaitu muatan positif dan muatan negatif.Jika suatu
benda kekurangan elektron maka benda tersebut bermuatan positif (+), sebaliknya
jika suatu benda kelebihan elektron maka benda tersebut bermuatan negatif (-).
Benda yang mempunyai jumlah muatan negatif sama dengan jumlah muatan positifnya
disebut benda netral. Jika dua benda bermuatan listrik didekatkan maka akan
terjadi interaksi sebagai berikut:
- muatan listrik yang sejenis maka benda akan
saling tolak menolak
- muatan listrik yang tidak sejenis maka benda
akan saling tarik menarik
-Menggosok permukaan benda dengan benda lainnya dapat
menghasilkan muatan listrik positif maupun negatif, misalnya:
-Penggaris digosok berulang kali dengan kain wol,
setelah itu penggaris akan bermutan listrik negatif karena muatan elektron dari
kain
-wol berpindah ke penggaris. Sedangkan kain wol akan
bermuatan positif.Batang kaca yang digosok dengan kain sutera atau dengan kain
wol, menghasilkan muatan listrik positif pada kaca dan muatan listrik negatif
pada kain sutera atau kain wol. Karena kain sutera atau kain wol menerima
muatan elektron dari batang kaca tersebut.
-Ketika ebonit digosokkan berulang kali dengan kain
wol, ebonit tersebut akan menghasilkan muatan listrik negatif karena elektron
pada kain wol berpindah ke ebonit.
setelah
bermuatan listrik, muatan tersebut akan diam di dalam benda sehingga muatan
listrik tersebut dinamakan muatan listrik statis.
Elektroskop
adalah suatu alat yang digunakan untuk mengetahui keberadaan muatan listrik
pada suatu benda.
Induksi
dapat membuat elektroskop menjadi bermuatan listrik. Dengan cara induksi
tersebut akan diperoleh muatan listrik yang berbeda jenis dengan muatan lisrik
benda yang digunakan untuk menginduksi.
Elektroskop yang telah bermuatan listrik dan diketahui
jenis muatannya dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan listrik suatu
benda. Suatu benda yang didekatkan pada elektroskop akan berakibat pada daun
logam. Jika daun lebih mekar maka benda tersebut bermuatan sejenis dengan
muatan listrik elektroskop.Sebaliknya jika daun lebih kuncup berarti benda yang
didekatkan bermuatan tidak sejenis dengan muatan elektroskop.
Pengertian
Listrik Statis
Listrik berasal dari
bahasa inggris electricityatau electricatauelectrical. Listrik adalah suatu
kondisi dari partikel subatomik tertentu, seperti elektron dan proton yang
mengalir melalui penghantar dalam sebuah rangkaian yang menyebabkan penarikan
dan penolakan gaya.
Suatu interaksi dari
benda-benda yang bermuatan listrik merupakan fenomena fisika yang dinamakan
listrik statis. Pada listrik statis akan dibahas mengenai muatan listrik yang
berada dalam keadaan diam (statis). Gejala listrik statis pertama kali
ditemukan oleh orang Yunani. yaitu ketika mereka mengamati peristiwa batu yang
dapat menarik benda kecil dan ringan (Sri.S, 2012). Jika penggaris didekatkan
pada potongan kertas kecil-kecil maka potongan kertas tersebut tentu akan
tertarik oleh sisir plastik. Gejala kelistrikan seperti ini disebut dengan
listrik statis.
Proses
Terjadinya Listrik Statis
Peristiwa listrik statis
dapat terjadi baik pada isolator maupun konduktor. Peristiwa listrik statis
terjadi setelah adanya materi yang menjadi bermuatan karena proses gesekan
(gosokan). Gesekan atau gosokan antara dua materi ini akan membuat electron
dari atom materi yang satu berpindah ke atom materi yang lain, sehingga kedua
materi menjadi bermuatan.
Materi akan menjadi
bermuatan positif jika melepaskan elektronnya, sebaliknya jika materi tidak
melepaskan elektronnya maka materi tersebut akan bermuatan negatif. Jadi,
perpindahan elektron pada peristiwa listrik statis terjadi karena proses
gesekan atau gosokan.
Setelah materi menjadi
bermuatan listrik maka terjadilah peristiwa listrik statis, seperti penggaris
plastik bermuatan menarik serpihan kertas. Penggaris plastik yang awalnya tidak
bermuatan atau netral digosok-gosok dengan kain wol, elektron-elektron yang ada
pada kain wol akan berpindah ke penggaris plastik tersebut. Akibatnya,
penggaris plastik disebut sebagai benda yang bermuatan listrik negatif.
Ketika
penggaris tersebut didekatkan ke sobekan kertas, sobekan kertas akan tertarik
oleh penggaris. Hal tersebut menunjukkan bahwa benda yang bermuatan listrik
negatif dapat menarik benda-benda ringan di sekitarnya yang bermuatan listrik
positif.
Hukum Coulomb
Pada waktu cuaca mendung atau hujan, sering terjadi
petir. Bagaimana petir terjadi? Petir merupakan loncatan muatan listrik akibat
perbedaan potensial yang sangat besar dari awan ke bumi yang disertai energi
yang sangat besar. Muatan listrik di awan merupakan muatan listrik statis.
Bagaimana muatan itu terbentuk?
Pada tahun 1785, seorang ahli fisika Prancis bernama Charles Augustin de
Coulomb melakukan penelitian mengenai gaya yang ditimbulkan oleh
dua benda yang bermuatan listrik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
disimpulkan bahwa:
“Besarnya
gaya tarik-menarik atau tolak-menolak antara dua benda bermuatan listrik (yang
kemudian disebut gaya Coulomb) berbanding lurus dengan muatan masing-masing
benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda tersebut.”
Jika dua benda berada di ruang vakum (hampa) bermuatan Q1 dan
Q2 dan memiliki jarak antara keduanya r, seperti pada gambar
berikut ini !

Secara matematis:

Keterangan:
F = gaya tarik manarik/tolak
menolak (newton)
q = muatan listrik (coulomb)
r = jarak antara kedua muatan
k = konstanta = 1/4πεo =
9 x 109 N.m2/C2
εo= permitivitas listrik dalam ruang hampa/udara =
8,85 x 10-12 C2/Nm2
Medan
Listrik
Medan listrik adalah daerah atau ruang
di sekitar muatan listrik yang masih dipengaruhi Gaya Coulomb (gaya listrik).

Medan listrik digambarkan dengan garis
gaya listrik yang arahnya keluar (menjauhi) untuk muatan positif dan masuk
(mendekati) untuk muatan negative.

Jadi besar gaya listrik dapat juga
ditulis:
Jika suatu titik daerah atau ruang
dipengaruhi oleh beberapa medan listrik, maka kuat medan listrik di daerah
titik tersebut adalah jumlah dari kuat medan listrik yang di hasilkan oleh tiap
muatan usmber pada titik tersebut.
Hukum
Gaus
Hukum gaus menjelaskan hubungan fluks
listrik (jumlah garis medan yang menembus suatu permuakaan tertutup) dengan
jumlah muatan listrik yang dilimgkungi oleh permukaan tertutup itu. Hukum ini
digunakan untuk menentukan kuat medan listrik pada bola konduktor dan pada
keping sejajar.
Fluks listrik ( ɸ ) adalah sejumlah
garis medan ( E ) yang menembus tegak lurus suaru bidang (A).
Dinyatakan secara matematis:

Jika medan listrik menembus bidang
tidak tegak lurus, tetapi ,membentuk sudut θ terhadap bidang, maka besarnya
fluks listrik menjadi :

Berdasarkan konsep fluks listrik
tersebut, Gauss mengemukakan hukumnya sebagai berikut:
“jumlah garis gaya dari suatu medan
listrik yang menembus suatu permukaan tertutup sebanding dengan jumlah muatan
listrik yang dilingkupi oleh permukaan tertutup itu”
Secara matematis, hukum Gauss
dinyatakan dengan rumus:

Contoh
Listrik Statis
Sebetulnya sering kita jumpai contoh
listrik statis dalam kehidupan sehari-hari tetapi mungkin saja tidak kita
sadari, berikut ini contohnya yaitu:
Penangkal
Petir
Sebelum terdengar petir tentu kita
lihat kilat.Kilat adalah cahaya yang timbul karena gerak elektron yang
bergesekan dengan udara.Akibatnya, udara yang dilalui kilat terbelah dan memuai
dengan cepat sehingga dapat menghasilkan suara yang menggelegar, yang disebut
petir. Cara kerja penangkal petir adalah sebagai berikut:
- Jika di
sekitar penangkal penangkal petir terdapat awan bermuatan negative, batang
logam penangkal petir mengalami induksi sehingga bermuatan positif (muatan
hasil induksi berlawanan dengan muatan benda yang menginduksi).
- Jika
petir menyambar batang logam, muatan negative petir berpindah ke
batanglogam dan diteruskan kebumi melalui kabel penangkal petir.
- Bersamaan
itu, muatan positif logam meloncat keawan petir sehingga menjadi netral.
Baca Juga Artikel yang Mungkin
Berkaitan : Kromatografi Adalah
2. Generator Van de Graff
Generator Van de Graff menggunakan
prinsip listrik statis yang mampu menghasilkan tegangan sangat tinggi, yakni
sekitar 20.000.000 volt, dengan gesekan yang ditimbulkan karet dapat
menggerakkan generator.
3. Cat semprot
Agar mobil dapat dicat dengan rata,
maka badan mobil diberi muatan listrik yang berbeda dengan muatan listrik pada
cat.Dengan demikian cat dapat menempel kuat dan merata pada mobil.
4. Alat penggumpal asap
Untuk menanggulangi polusi udara dari
cerobong asap pabrik, seorang ahli kimia Amerika yang bernamaFrederick
Gardner Cottrel membuat alat penggumpal asap yang terdiri dari dua
logam yang memiliki muatan yang berlawanan sehingga partikel-partikel asap
terinduksi dan terjadi gaya tarik menarik antara partikel sehingga massa
partikel bertambah besar dan membentuk gumpalan hitam yang mudah dibersihkan.
5. Mesin fotokopi
Mesin fotokopi pertama yang dipasarkan
adalah Xerox Corporation pada tahun 1959 dengan
memanfaatkan prinsip muatan induksi serta gaya Coulomb. Bagian utama mesin
fotokopi adalah pelat foto konduktif yang dalam keadaan gelap tidak menghantar
listrik.Pelat baru aktif jika dikenai cahaya
Rumus
Listrik Statis
Nah berikut ini rumus-rumus listrik
statis beserta penjelasannya dibawah ini:
MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI LISTRIK STATIS DI KELAS
XII SMA NEGERI 9 PONTIANAK
Sapitri Daniati, Tomo Djudin, Hamdani
PENDAHULUAN
Salah satu
cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah fisika. “Fisika merupakan ilmu
fundamental yang menjadi tulang punggung bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi” (Supiyanto, 2007). Fisika dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang
berusaha menguraikan serta menjelaskan hukum-hukum alam dan kejadian-kejadian
alam dengan gambaran menurut pemikiran manusia (Druxes; Born; dan Siemsen,
1983: 12). Dalam proses pembelajaran fisika secara formal siswa sudah memiliki
konsep awal tentang fisika yang biasanya diperoleh dari lingkungan siswa,
orangtua, pengalaman, dan dipendidikan sebelumnya. konsep awal yang dimiliki
siswa kadang-kadang tidak sesuai dengan konsep para ilmuwan. Konsep awal yang
tidak sesuai dengan konsep para ilmuwan biasanya disebut miskonsepsi atau salah
konsep. Miskonsepsi siswa biasanya bertahan lama dan sulit diperbaiki, karena
konsep awal yang dimiliki siswa meskipun keliru tetapi dapat menjelaskan
persoalan hidup yang mereka hadapi. (Suparno, 2005:2).
Proses
pembelajaran fisika yang benar haruslah mengembangakan perubahan konsepsi.
Sangat penting bagi guru, saat pembelajaran mempertanyakan gagasan dan konsep
yang diketahui oleh siswa. Dengan metode apapun guru mengajar, perlu memberikan
pelung kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya dan ide tetang konsep yang
dipelajari, dari situlah guru mengetahui dan mengerti akan kekeliruan siswa
(Suparno, 2005: 83). Miskonsepsi terjadi pada semua jenjang pendidikan, dari
sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Pada penelitian terdahulu yaitu
miskonsepsi mahasiswa fisika tentang listrik statis menggunakan tes konsep
listrik statis (Khasanah dan Setiawan, 2015) menyatakan bahwa mahasiswa
mengalami miskonsepsi 8%, tidak paham 48%, dan paham 44 %. Miskonsepsi
mahasiswa fisika tentang listrik statis (Sukadi dan Ira, 2013) menyatakan bahwa
sebanyak 45,8% mahasiswa miskonsepsi dalam mengartikan benda yang di sebut
positif, sebanyak 10,8% mahasiswa miskonsepsi dalam mengartikan benda yang
disebut negatif, sebanyak 82,1% mahasiswa miskonsepsi dalam mengartikan benda
yang disebut netral, sebanyak 72,5% mahasiswa mengalami miskonsepsi dalam
memahami benda yang dikatakan bermuatan listrik, Sebanyak 42,8% mahasiswa
mengalami miskonsepsi dalam menjelaskan perpindahan muatan dengan menggosok
penggaris pada kain wol, sebanyak 38,3% siswa miskonsepsi dalam menjelaskan
perpindahan muatan dengan menggosok kaca pada kain sutra, Sebanyak 71,7%
mahasiswa miskonsepsi yang menganggap sifat muatan yang sejenis akan tarik menarik,
sebanyak 69,2% mahasiswa miskonsepsi yang menganggap sifat muatan yang tidak
sejenis akan tolak menolak, dan sebanyak 68,3% mahasiswa mengalami miskonsepsi
dalam memahami konsep hukum coulomb yaitu hubungan antara gaya coulomb, muatan
dan jarak antara dua muatan.
Dalam riset
miskonsepsi di Indonesia, bedasarkan jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA dan
perguruan tinggi memiliki miskonsepsi yang sama dan berbeda-beda. Berdasarkan
kelamin / jender, juga ada perbedaan tingkat persentase (%) miskonsepsi. Banyak
beranggapan bahwa siswa putri kurang berminat pada fisika, sehingga kemungkinan
mempunyai miskonsepsi lebih banyak dibandingkan siswa putra. Siswa yang
berminat dalam pelajaran fisika cenderung memiliki miskonsepsi yang lebih
rendah daripada siswa yang kurang berminat dalam pelajaran fisika (Suparno,
2005: 133).Ada beberapa cara untuk membantu siswa mengatasi miskonsepsi. Tetapi
tidak setiap cara sesuai bagi siswa yang mengalami miskonsepsi, karena
kesalahan siswa dapat beraneka ragam. Maka penting bagi guru untuk mengetahui
dan mengerti miskonsepsi yang telah dialami siswa. Beberapa cara mendeteksi
miskonsepsi siswa yang biasa digunakan peneliti antara lain: tes esai, tes
pilihan ganda, tes multiple choices dengan alasan terbuka. Dalam penelitian ini
peneliti menggunakan tes multiple choices dengan alasan terbuka. “tes multiple
choices dengan alasan terbuka merupakan model pilihan ganda, tetapi ditambah
alasan yang terbuka sehingga siswa masih dimungkinkan mengungkapkan alasannya
yang mendalam” (Suparno, 2010: 59-83).Berdasarkan uraian di atas, penelitian
diarahkan pada penelitian untuk menggali miskonsepsi siswa serta melihat
perbadaan persentase miskonsepsi siswa laki-laki dan perempuan pada materi
listrik statis di SMA.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian
yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini
adalah semua siswa kelas XII SMA Negeri 9 Pontianak tahun ajaran 2016/2017 yang
berjumlah 113. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XII
SMA Negeri 9 Pontianak. Dalam menentukan sampel peneliti menggunakan teknik
disproportionate stratified random sampling dan Sample Size Calculator. Untuk
pengambilan sampel dengan Sample Size Calculator menggunakan tingkat
kepercayaan (confidence level) sebesar 95% dan rentang kepercayaan (confidence
interval) sebesar 5%, dengan populasi berjumlah 113 siswa dari semua kelas XII
IPA, sehingga diperoleh sampel sebanyak 88 siswa. Dari 88 siswa yang ditentukan
menjadi sampel dalam penelitian ini, maka peneliti mengambil sampel sebanyak 30
siswa di setiap kelas yang diambil secara acak dengan cara cabut undi. Alat
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes. Tes yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tes diagnostik. Tes diagnostik yang
digunakan adalah bentuk tes multiple choices dengan alasan terbuka yang telah
divalidasi oleh 1 orang dosen pendidikan fisika FKIP UNTAN dan 1 orang guru
mata pelajaran pendidikan fisikan SMA Negeri 9 Pontianak dengan hasil validasi
bahwa instrumen yang digunakan valid. Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan
di MAN Kubu Raya bahwa tingkat reliabilitas instrument yang dihitungan
menggunakan rumus KR-20 (Kuder Richarson-20) diperoleh 0,522 dikategorikan
sedang. Miskonsepsi dalam penelitian ini adalah konsepsi siswa yang keliru atau
tidak sesuai dengan konsepsi para ilmuwan pada materi listrik statis yang di
lihat dari tes diagnostik yang dikerjakan oleh siswa berupa tes multiple
Choices dengan alasan terbuka. Jawaban siswa digolongkan miskonsepsi jika:
a. Pilihan
benar dan alasan salah
b. Pilihan
salah dan alasan benar
c. Pilihansalah
dan alasan salah
d. Tidak
memiliki jawaban dan alasan Alasan siswa dikatakan benar apabila sesuai dengan
konsep ilmuwan dan sesuai konteks masing-masing soal.
Alasan siswa
dikatakan salah apabila:
a. Berbeda
dengan konsepsi ilmiah sesuai konteks soal
b. Alasan tidak
lengkap
c. Alasan dari
pengulangan soal
d. Siswa tidak
memberikan alasan Hasil tes dianalisis dengan membandingkan kosep para ahli
dengan jawaban siswa beserta alasannya, mengelompokan jawaban siswa .
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dalam proses pembelajaran sering kali siswa memiliki
konsepsi yang berbeda atau tidak sesuai dengan konsepsi para ilmuwan. Dengan
konsepsi siswa yang berbeda dengan para ilmuwan, tidak mustahil bagi siswa
melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Dalam hal ini
perlu adanya analisis melalui setiap jawaban siswa dengan menggunakan soal
pilihan ganda dengan alasan terbuka guna mengetahui bentuk-bentuk kelasahan
siswa. Dalam proses pengambilan data yang akan di analisis, sampel yang
digunakan sebanyak 90 siswa yang terbagi antara 36 siswa lakilaki dan 54 siswa
perempuan pada kelas XII IPA di SMA Negeri 9 Pontianak. Adapun rekapitulasi
miskonsepsi mahasiswa pada materi listrik statis disajikan pada Tabel 1.
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dikemukakan
bahwa secara umum konsepsi siswa tentang listrik statis belum sesuai dengan
konsep ilmuan dengan rata-rata presentase sebesar 77,36% dari 90 siswa. dengan
rata-rata persentase mikonsepsi siswa laki-laki sebesar 75.83% dan siswa
perempuan sebesar 78.89%. Untuk mengetahui kemungkinan ada atau tidak perbedaan
persentase miskonsepsi antara laki-laki dan perempuan, peneliti menggunakan
bantuan dari tabel chi kuadrat hitung. “Dalam tabel chi kuadrat hitung berlaku
ketentuan bila chi kuadarat hitung lebih kecil dari harga tabel chi kuadrat,
maka Ho diterima dan apabila lebih besar atau sama dengan harga tabel chi
kuadrat maka Ho di Tolak. Hipotesis yang diajukan adalah:
Ho : tidak ada perbedaan persentase miskonsepsi antara
siswa laki-laki dan perempuan
Ha : ada perbedaan persentase miskonsepsi antara siswa
laki-laki dan perempuan
Pembahasan
a. Profil Miskonsepsi Siswa Tentang Listrik Statis
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui rata-rata miskonsepsi
siswa pada materi listrik sebesar 77,36% dari 90 siswa kelas XII IPA yang
dijadikan sampel. Pada soal nomor 1 ditemukan sebanyak 27 (75%) siswa lakilaki
dan 38 (70,37%) siswa perempuan mengalami miskonsepsi. Siswa masih beranggapan
jika dua benda saling digosokkan maka elektron dan proton saling berpindah.
Seharusnya siswa memahami bahwa muatan yang berpindah hanya elektron. Pada soal
nomor 2 ditemukan sebanyak 30 (83,33%) siswa laki-laki dan 47 (87,04%) siswa
perempuan mengalami miskonsepsi. Jika muatan suatu benda setelah digosokkan
mengalami kelebihan elektron maka muatan benda pada awalnya adalah negatif.
Seharusnya siswa memahami bahwa muatan suatu benda pada awalnya sebelum diberi
perlakuan adalah netral. Pada soal nomor 3 sebanyak 5 (13,89%) siswa laki-laki
dan 13 (24,07%) siswa perempuan mengalami miskonsepsi pada indikator tetang
menjelaskan interaksi antara benda bermuatan yang diberi perlakuan listrik
statis. Siswa beranggapan bahwa interaksi dua buah benda yang saling kelebihan
elektron akan tarik menarik. Berdasarkan indikator tentang mendeskripsikan
hubungan antara muatan benda dan gaya listrik serta jarak antara benda
bermuatan. Pada soal nomor 4 sebanyak 32 (88,89%) siswa laki-laki dan 48
(88,89%) siswa perempuan mengalami miskonsepsi. Siswa hanya beranggapan bahwa
besar gaya listrik berbanding terbalik dengan jarak antara benda bermuatan.
Pada soal nomor 5, sebanyak 36 (100%) siswa laki-laki dan 54 (100%) siswa
perempuan mengalami miskonsepsi. Siswa beranggapan besar gaya tarik atau tolak
antara 2 benda bermuatan diakibatkan oleh muatan pada benda tersebut. Hal ini
juga terjadi pada soal nomor 6, siswa laki-laki dan perempuan juga mengalami
masingmasing 100% miskonsepsi yang sama. Berdasarkan indikator tentang
mendeskripsikan arah kuat medan listrik. Pada soal nomor 7 sebanyak 16 (44,44%)
siswa laki-laki dan 26 (48,15) siswa perempuan mengalami miskonsepsi. siswa
beranggapan bahwa pada muatan sumber positif arah medannya akan mendekati
muatan sumber dan pada muatan sumber negatif arah medannya akan menjauhi muatan
sumber. Miskonsepsi siswa juga terjadi pada soal nomor 10, sebanyak 27 (75%)
siswa lakilaki dan 51 (94,45%) siswa perempuan mempunyai konsepsi yang sama.
Berdasarkan indikator tentang menjelaskan kuat medan listrik pada suatu titik.
Pada soal nomor 8 yang diketahui miskonsepsi siswa sebanyak 28 (77,78%) siswa
laki-laki dan 42 (77,78%) siswa perempuan. Siswa hanya mengulang pertanyaan
dalam memberikan alasan atas jawabannya. Abraham, (1992) menyatakan siswa yang
hanya mengulangi pertanyaan dalam memberikan alasan atas jawabannya termasuk
kedalam kategori miskonsepsi. Pada soal nomor 9 sebanyak 32 (88,88%) siswa
laki-laki dan 54 (100%) siswa perempuan mengalami miskonsepsi. siswa
beranggapan bahwa semakin jauh jarak suatu benda maka semakin besar kuat medan
listriknya. Berdasarkan data miskonsepsi yang dianalisis, miskonsepsi siswa
berasal dari siswa itu sendiri dan dari lingkungan siswa yaitu dari teman
sekelas. Miskonsepsi yang berasal dari siswa itu sendiri di tunjukan oleh alasan
atas jawaban siswa yang tidak lengakap. Menurut Comins (Suparno, 2005)
“miskonsepsi disebabkan oleh penalaran siswa yang tidak lengkap. Alasan yang
tidak lengkap dapat disebabkan karena informasi yang diperoleh atau data yang
didapatkan tidak lengkap”. Akhirnya siswa menarik kesimpulan yang salah. Selain
itu, pemikiran intuitif juga merupakan sumber miskonsepsi bagi siswa (Suparno,
2005). Pemikiran intuitif adalah kemampuan mengetahui atau memahami suatu tanpa
dipikirkan atau dipelajari (bisikan hati) (KBBI, 2005). Miskonsepsi yang
terjadi dilingkungan siswa, yaitu dari teman sekelas. Hal ini ditunjukan oleh
alasan siswa yang diberikan pada jawaban yang dipilih oleh siswa, siswa
memiliki alasan yang sama walaupun secara berkelompok. Hal ini terjadi pada setiap
soal yang diberikan. Menurut Suparno (2005: 48) “orang muda sangat senang dalam
berkelompok besama teman kelompoknya. Dalam kelompok ini biasanya ada yang
didominasi oleh beberapa orang, biasanya siswa akan mudah terpikat pada apa
yang diungkapkan, dipikirkan, dan dibuat oleh siswa yang dominan tersebut.
Banyak siswa yang tidak kritis terhadap kesalahan temannya, terlebih siswa yang
dianggap dekat dan pandai”. Dalam hal ini siswa mendapat informasi yang berasal
dari sumber yang mengalami miskonsepsi, maka tidak mustahil bagi siswa lain
untuk tidak mengalami miskonsepsi dalam menjawab soal.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan
analisis data dapat disimpulkan bahwa persentase miskonsepsi pada siswa kelas
XII IPA SMA Negeri 9 pontianak tentang listrik statis sebesar 77,36%. Secara
khusus, kesimpulan penelitian ini adalah: 1. Profil miskonsepsi siswa tentang
listrik statis adalah sebagai berikut: a) sebanyak 75% siswa laki-laki dan
70,37%) siswa perempuan beranggapan bahwa jika dua benda saling digosokkan maka
elektron dan proton saling berpindah. b) sebanyak 83,33% siswa laki-laki dan
87,04% siswa perempuan beranggapan bahwa jika muatan suatu benda setelah
digosokkan mengalami kelebihan elektron maka muatan benda pada awalnya adalah
negatif. c) sebanyak 13,89% siswa laki-laki dan 24,07% siswa perempuan
beranggapan bahwa interaksi dua buah benda yang saling kelebihan elektron akan
tarik menaarik. d) sebanyak 88,89% siswa laki-laki dan 88,89% siswa perempuan
beranggapan bahwa besar gaya listrik berbanding terbalik dengan jarak antara
benda bermuatan. e) Sebanyak 100% siswa laki-laki dan 100% siswa perempuan
beranggapan besar gaya tarik atau tolak antara 2 benda bermuatan diakibatkan
oleh besar muatan pada benda tersebut. f) sebanyak 44,44% siswa laki-laki dan
48,15 siswa perempuan pada soal nomor 7, dan sebanyak 75% siswa laki-laki dan
94,44% siswa perempuan pada soal nomor 10 beranggapan bahwa pada muatan sumber
positif arah medannya akan mendekati muatan sumber dan pada muatan sumber
negatif arah medannya akan menjauhi muatan sumber. g) sebanyak 77,78% siswa
laki-laki dan 77,78% siswa perempuan miskonsepsi dalam menjelaskan kuat medan
listrik pada suatu titik. h) sebanyak 88,89% siswa laki-laki dan 100% perempuan
beranggapan bahwa semakin jauh jarak suatu benda maka semakin besar kuat medan
listrinya. 2. Tidak terdapat perbedaan persentase miskonsepsi siswa laki-laki
dan perempuan. Dengan hasil uji chi kuadrat hitung sebesar 0,797 lebih kecil
dari harga chi kuadrat tabel 16,92.

Komentar
Posting Komentar