TUGAS PERTEMUAN 4

 NAMA : MUCH AGFIANSYAH

NIM : 72200001

KELAS : 72.2B.07

MATA KULIAH : MEDAN ELEKTROMAGNETIK

DOSEN : IBU SRI WATMAH

 

Teori Listrik statis hukum columb dan hukum gauss , , study kasus, metode permasalahan, solusi, kesimpulan .

 

Source : https://www.dosenpendidikan.co.id/author/hisam/

https://www.dosenpendidikan.co.id/listrik-statis/

Author : hisam

Posting : 27 januari 2021

Publish :  https://www.dosenpendidikan.co.id/listrik-statis/

 

Jika sebuah benda mengalami kekurangan atau kelebihan elektron maka benda tersebut dapat dikatakan bermuatan listrik. Ada dua jenis muatan listrik, yaitu muatan positif dan muatan negatif.Jika suatu benda kekurangan elektron maka benda tersebut bermuatan positif (+), sebaliknya jika suatu benda kelebihan elektron maka benda tersebut bermuatan negatif (-). Benda yang mempunyai jumlah muatan negatif sama dengan jumlah muatan positifnya disebut benda netral. Jika dua benda bermuatan listrik didekatkan maka akan terjadi interaksi sebagai berikut:

  1. muatan listrik yang sejenis maka benda akan saling tolak menolak
  2. muatan listrik yang tidak sejenis maka benda akan saling tarik menarik

 

-Menggosok permukaan benda dengan benda lainnya dapat menghasilkan muatan listrik positif maupun negatif, misalnya:

-Penggaris digosok berulang kali dengan kain wol, setelah itu penggaris akan bermutan listrik negatif karena muatan elektron dari kain

-wol berpindah ke penggaris. Sedangkan kain wol akan bermuatan positif.Batang kaca yang digosok dengan kain sutera atau dengan kain wol, menghasilkan muatan listrik positif pada kaca dan muatan listrik negatif pada kain sutera atau kain wol. Karena kain sutera atau kain wol menerima muatan elektron dari batang kaca tersebut.

-Ketika ebonit digosokkan berulang kali dengan kain wol, ebonit tersebut akan menghasilkan muatan listrik negatif karena elektron pada kain wol berpindah ke ebonit.

setelah bermuatan listrik, muatan tersebut akan diam di dalam benda sehingga muatan listrik tersebut dinamakan muatan listrik statis.

Elektroskop adalah suatu alat yang digunakan untuk mengetahui keberadaan muatan listrik pada suatu benda.

Induksi dapat membuat elektroskop menjadi bermuatan listrik. Dengan cara induksi tersebut akan diperoleh muatan listrik yang berbeda jenis dengan muatan lisrik benda yang digunakan untuk menginduksi.

 

Elektroskop yang telah bermuatan listrik dan diketahui jenis muatannya dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan listrik suatu benda. Suatu benda yang didekatkan pada elektroskop akan berakibat pada daun logam. Jika daun lebih mekar maka benda tersebut bermuatan sejenis dengan muatan listrik elektroskop.Sebaliknya jika daun lebih kuncup berarti benda yang didekatkan bermuatan tidak sejenis dengan muatan elektroskop.

 

Pengertian Listrik Statis

Listrik berasal dari bahasa inggris electricityatau electricatauelectrical. Listrik adalah suatu kondisi dari partikel subatomik tertentu, seperti elektron dan proton yang mengalir melalui penghantar dalam sebuah rangkaian yang menyebabkan penarikan dan penolakan gaya.

Suatu interaksi dari benda-benda yang bermuatan listrik merupakan fenomena fisika yang dinamakan listrik statis. Pada listrik statis akan dibahas mengenai muatan listrik yang berada dalam keadaan diam (statis). Gejala listrik statis pertama kali ditemukan oleh orang Yunani. yaitu ketika mereka mengamati peristiwa batu yang dapat menarik benda kecil dan ringan (Sri.S, 2012). Jika penggaris didekatkan pada potongan kertas kecil-kecil maka potongan kertas tersebut tentu akan tertarik oleh sisir plastik. Gejala kelistrikan seperti ini disebut dengan listrik statis.

 

Proses Terjadinya Listrik Statis

Peristiwa listrik statis dapat terjadi baik pada isolator maupun konduktor. Peristiwa listrik statis terjadi setelah adanya materi yang menjadi bermuatan karena proses gesekan (gosokan). Gesekan atau gosokan antara dua materi ini akan membuat electron dari atom materi yang satu berpindah ke atom materi yang lain, sehingga kedua materi menjadi bermuatan.

Materi akan menjadi bermuatan positif jika melepaskan elektronnya, sebaliknya jika materi tidak melepaskan elektronnya maka materi tersebut akan bermuatan negatif. Jadi, perpindahan elektron pada peristiwa listrik statis terjadi karena proses gesekan atau gosokan.

Setelah materi menjadi bermuatan listrik maka terjadilah peristiwa listrik statis, seperti penggaris plastik bermuatan menarik serpihan kertas. Penggaris plastik yang awalnya tidak bermuatan atau netral digosok-gosok dengan kain wol, elektron-elektron yang ada pada kain wol akan berpindah ke penggaris plastik tersebut. Akibatnya, penggaris plastik disebut sebagai benda yang bermuatan listrik negatif.

Ketika penggaris tersebut didekatkan ke sobekan kertas, sobekan kertas akan tertarik oleh penggaris. Hal tersebut menunjukkan bahwa benda yang bermuatan listrik negatif dapat menarik benda-benda ringan di sekitarnya yang bermuatan listrik positif.

Hukum Coulomb

Pada waktu cuaca mendung atau hujan, sering terjadi petir. Bagaimana petir terjadi? Petir merupakan loncatan muatan listrik akibat perbedaan potensial yang sangat besar dari awan ke bumi yang disertai energi yang sangat besar. Muatan listrik di awan merupakan muatan listrik statis. Bagaimana muatan itu terbentuk?

Pada tahun 1785, seorang ahli fisika Prancis bernama Charles Augustin de Coulomb melakukan penelitian mengenai gaya yang  ditimbulkan oleh  dua benda yang bermuatan listrik.  Berdasarkan penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa:

 Besarnya gaya tarik-menarik atau tolak-menolak antara dua benda bermuatan listrik (yang kemudian disebut gaya Coulomb) berbanding lurus dengan muatan masing-masing benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda tersebut.  

Jika dua benda berada di ruang vakum (hampa) bermuatan Q1 dan Q2 dan memiliki jarak antara keduanya r, seperti pada gambar berikut ini !

bermuatan Q1 dan Q

Secara matematis:

Secara matematis

Keterangan:

F =  gaya tarik manarik/tolak menolak (newton)

q = muatan listrik (coulomb)

r = jarak antara kedua muatan

k = konstanta = 1/4πεo = 9 x 109 N.m2/C2

εo= permitivitas listrik dalam ruang hampa/udara = 8,85 x 10-12 C2/Nm2


 

Medan Listrik

Medan listrik adalah daerah atau ruang di sekitar muatan listrik yang masih dipengaruhi Gaya Coulomb (gaya listrik).

Medan Listrik


Medan listrik digambarkan dengan garis gaya listrik yang arahnya keluar (menjauhi) untuk muatan positif dan masuk (mendekati) untuk muatan negative.

Medan listrik Positif dan Negatif


Jadi besar gaya listrik dapat juga ditulis:

Jika suatu titik daerah atau ruang dipengaruhi oleh beberapa medan listrik, maka kuat medan listrik di daerah titik tersebut adalah jumlah dari kuat medan listrik yang di hasilkan oleh tiap muatan usmber pada titik tersebut.Rumus Medan Listrik


Hukum Gaus

Hukum gaus menjelaskan hubungan fluks listrik (jumlah garis medan yang menembus suatu permuakaan tertutup) dengan jumlah muatan listrik yang dilimgkungi oleh permukaan tertutup itu. Hukum ini digunakan untuk menentukan kuat medan listrik pada bola konduktor dan pada keping sejajar.


Fluks listrik ( ɸ ) adalah sejumlah garis medan ( E ) yang menembus tegak lurus suaru bidang (A).


Dinyatakan secara matematis:

Hukum Gaus


Jika medan listrik menembus bidang tidak tegak lurus, tetapi ,membentuk sudut θ terhadap bidang, maka besarnya fluks listrik menjadi :

besarnya fluks listrik


Berdasarkan konsep fluks listrik tersebut, Gauss mengemukakan hukumnya sebagai berikut:


jumlah garis gaya dari suatu medan listrik yang menembus suatu permukaan tertutup sebanding dengan jumlah muatan listrik yang dilingkupi oleh permukaan tertutup itu”


Secara matematis, hukum Gauss dinyatakan dengan rumus:

Rumus Hukum Gaus


Contoh Listrik Statis

Sebetulnya sering kita jumpai contoh listrik statis dalam kehidupan sehari-hari tetapi mungkin saja tidak kita sadari, berikut ini contohnya yaitu:


 

 

Penangkal Petir

Sebelum terdengar petir tentu kita lihat kilat.Kilat adalah cahaya yang timbul karena gerak elektron yang bergesekan dengan udara.Akibatnya, udara yang dilalui kilat terbelah dan memuai dengan cepat sehingga dapat menghasilkan suara yang menggelegar, yang disebut petir. Cara kerja penangkal petir adalah sebagai berikut:

  • Jika di sekitar penangkal penangkal petir terdapat awan bermuatan negative, batang logam penangkal petir mengalami induksi sehingga bermuatan positif (muatan hasil induksi berlawanan dengan muatan benda yang menginduksi).
  • Jika petir menyambar batang logam, muatan negative petir berpindah ke batanglogam dan diteruskan kebumi melalui kabel penangkal petir.
  • Bersamaan itu, muatan positif logam meloncat keawan petir sehingga menjadi netral.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Kromatografi Adalah


2.  Generator Van de Graff

Generator Van de Graff menggunakan prinsip listrik statis yang mampu menghasilkan tegangan sangat tinggi, yakni sekitar 20.000.000 volt, dengan gesekan yang ditimbulkan karet dapat menggerakkan generator.


3.  Cat semprot

Agar mobil dapat dicat dengan rata, maka badan mobil diberi muatan listrik yang berbeda dengan muatan listrik pada cat.Dengan demikian cat dapat menempel kuat dan merata pada mobil.


4.  Alat penggumpal asap

Untuk menanggulangi polusi udara dari cerobong asap pabrik, seorang ahli kimia Amerika yang bernamaFrederick Gardner Cottrel membuat alat penggumpal asap yang terdiri dari dua logam yang memiliki muatan yang berlawanan sehingga partikel-partikel asap terinduksi dan terjadi gaya tarik menarik antara partikel sehingga massa partikel bertambah besar dan membentuk gumpalan hitam yang mudah dibersihkan.


5.  Mesin fotokopi

Mesin fotokopi pertama yang dipasarkan adalah Xerox Corporation pada tahun 1959 dengan memanfaatkan prinsip muatan induksi serta gaya Coulomb. Bagian utama mesin fotokopi adalah pelat foto konduktif yang dalam keadaan gelap tidak menghantar listrik.Pelat baru aktif jika dikenai cahaya


Rumus Listrik Statis

Nah berikut ini rumus-rumus listrik statis beserta penjelasannya dibawah ini:

Rumus Listrik Statis

 

 

 

MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI LISTRIK STATIS DI KELAS XII SMA NEGERI 9 PONTIANAK

Sapitri Daniati, Tomo Djudin, Hamdani

 

PENDAHULUAN

     Salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah fisika. “Fisika merupakan ilmu fundamental yang menjadi tulang punggung bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi” (Supiyanto, 2007). Fisika dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha menguraikan serta menjelaskan hukum-hukum alam dan kejadian-kejadian alam dengan gambaran menurut pemikiran manusia (Druxes; Born; dan Siemsen, 1983: 12). Dalam proses pembelajaran fisika secara formal siswa sudah memiliki konsep awal tentang fisika yang biasanya diperoleh dari lingkungan siswa, orangtua, pengalaman, dan dipendidikan sebelumnya. konsep awal yang dimiliki siswa kadang-kadang tidak sesuai dengan konsep para ilmuwan. Konsep awal yang tidak sesuai dengan konsep para ilmuwan biasanya disebut miskonsepsi atau salah konsep. Miskonsepsi siswa biasanya bertahan lama dan sulit diperbaiki, karena konsep awal yang dimiliki siswa meskipun keliru tetapi dapat menjelaskan persoalan hidup yang mereka hadapi. (Suparno, 2005:2).

    Proses pembelajaran fisika yang benar haruslah mengembangakan perubahan konsepsi. Sangat penting bagi guru, saat pembelajaran mempertanyakan gagasan dan konsep yang diketahui oleh siswa. Dengan metode apapun guru mengajar, perlu memberikan pelung kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya dan ide tetang konsep yang dipelajari, dari situlah guru mengetahui dan mengerti akan kekeliruan siswa (Suparno, 2005: 83). Miskonsepsi terjadi pada semua jenjang pendidikan, dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Pada penelitian terdahulu yaitu miskonsepsi mahasiswa fisika tentang listrik statis menggunakan tes konsep listrik statis (Khasanah dan Setiawan, 2015) menyatakan bahwa mahasiswa mengalami miskonsepsi 8%, tidak paham 48%, dan paham 44 %. Miskonsepsi mahasiswa fisika tentang listrik statis (Sukadi dan Ira, 2013) menyatakan bahwa sebanyak 45,8% mahasiswa miskonsepsi dalam mengartikan benda yang di sebut positif, sebanyak 10,8% mahasiswa miskonsepsi dalam mengartikan benda yang disebut negatif, sebanyak 82,1% mahasiswa miskonsepsi dalam mengartikan benda yang disebut netral, sebanyak 72,5% mahasiswa mengalami miskonsepsi dalam memahami benda yang dikatakan bermuatan listrik, Sebanyak 42,8% mahasiswa mengalami miskonsepsi dalam menjelaskan perpindahan muatan dengan menggosok penggaris pada kain wol, sebanyak 38,3% siswa miskonsepsi dalam menjelaskan perpindahan muatan dengan menggosok kaca pada kain sutra, Sebanyak 71,7% mahasiswa miskonsepsi yang menganggap sifat muatan yang sejenis akan tarik menarik, sebanyak 69,2% mahasiswa miskonsepsi yang menganggap sifat muatan yang tidak sejenis akan tolak menolak, dan sebanyak 68,3% mahasiswa mengalami miskonsepsi dalam memahami konsep hukum coulomb yaitu hubungan antara gaya coulomb, muatan dan jarak antara dua muatan.

    Dalam riset miskonsepsi di Indonesia, bedasarkan jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi memiliki miskonsepsi yang sama dan berbeda-beda. Berdasarkan kelamin / jender, juga ada perbedaan tingkat persentase (%) miskonsepsi. Banyak beranggapan bahwa siswa putri kurang berminat pada fisika, sehingga kemungkinan mempunyai miskonsepsi lebih banyak dibandingkan siswa putra. Siswa yang berminat dalam pelajaran fisika cenderung memiliki miskonsepsi yang lebih rendah daripada siswa yang kurang berminat dalam pelajaran fisika (Suparno, 2005: 133).Ada beberapa cara untuk membantu siswa mengatasi miskonsepsi. Tetapi tidak setiap cara sesuai bagi siswa yang mengalami miskonsepsi, karena kesalahan siswa dapat beraneka ragam. Maka penting bagi guru untuk mengetahui dan mengerti miskonsepsi yang telah dialami siswa. Beberapa cara mendeteksi miskonsepsi siswa yang biasa digunakan peneliti antara lain: tes esai, tes pilihan ganda, tes multiple choices dengan alasan terbuka. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tes multiple choices dengan alasan terbuka. “tes multiple choices dengan alasan terbuka merupakan model pilihan ganda, tetapi ditambah alasan yang terbuka sehingga siswa masih dimungkinkan mengungkapkan alasannya yang mendalam” (Suparno, 2010: 59-83).Berdasarkan uraian di atas, penelitian diarahkan pada penelitian untuk menggali miskonsepsi siswa serta melihat perbadaan persentase miskonsepsi siswa laki-laki dan perempuan pada materi listrik statis di SMA.

 

METODE PENELITIAN

 Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XII SMA Negeri 9 Pontianak tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 113. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XII SMA Negeri 9 Pontianak. Dalam menentukan sampel peneliti menggunakan teknik disproportionate stratified random sampling dan Sample Size Calculator. Untuk pengambilan sampel dengan Sample Size Calculator menggunakan tingkat kepercayaan (confidence level) sebesar 95% dan rentang kepercayaan (confidence interval) sebesar 5%, dengan populasi berjumlah 113 siswa dari semua kelas XII IPA, sehingga diperoleh sampel sebanyak 88 siswa. Dari 88 siswa yang ditentukan menjadi sampel dalam penelitian ini, maka peneliti mengambil sampel sebanyak 30 siswa di setiap kelas yang diambil secara acak dengan cara cabut undi. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes diagnostik. Tes diagnostik yang digunakan adalah bentuk tes multiple choices dengan alasan terbuka yang telah divalidasi oleh 1 orang dosen pendidikan fisika FKIP UNTAN dan 1 orang guru mata pelajaran pendidikan fisikan SMA Negeri 9 Pontianak dengan hasil validasi bahwa instrumen yang digunakan valid. Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan di MAN Kubu Raya bahwa tingkat reliabilitas instrument yang dihitungan menggunakan rumus KR-20 (Kuder Richarson-20) diperoleh 0,522 dikategorikan sedang. Miskonsepsi dalam penelitian ini adalah konsepsi siswa yang keliru atau tidak sesuai dengan konsepsi para ilmuwan pada materi listrik statis yang di lihat dari tes diagnostik yang dikerjakan oleh siswa berupa tes multiple Choices dengan alasan terbuka. Jawaban siswa digolongkan miskonsepsi jika:

 a. Pilihan benar dan alasan salah

 b. Pilihan salah dan alasan benar

 c. Pilihansalah dan alasan salah

 d. Tidak memiliki jawaban dan alasan Alasan siswa dikatakan benar apabila sesuai dengan konsep ilmuwan dan sesuai konteks masing-masing soal.

 Alasan siswa dikatakan salah apabila:

 a. Berbeda dengan konsepsi ilmiah sesuai konteks soal

 b. Alasan tidak lengkap

 c. Alasan dari pengulangan soal

 d. Siswa tidak memberikan alasan Hasil tes dianalisis dengan membandingkan kosep para ahli dengan jawaban siswa beserta alasannya, mengelompokan jawaban siswa .

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Dalam proses pembelajaran sering kali siswa memiliki konsepsi yang berbeda atau tidak sesuai dengan konsepsi para ilmuwan. Dengan konsepsi siswa yang berbeda dengan para ilmuwan, tidak mustahil bagi siswa melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Dalam hal ini perlu adanya analisis melalui setiap jawaban siswa dengan menggunakan soal pilihan ganda dengan alasan terbuka guna mengetahui bentuk-bentuk kelasahan siswa. Dalam proses pengambilan data yang akan di analisis, sampel yang digunakan sebanyak 90 siswa yang terbagi antara 36 siswa lakilaki dan 54 siswa perempuan pada kelas XII IPA di SMA Negeri 9 Pontianak. Adapun rekapitulasi miskonsepsi mahasiswa pada materi listrik statis disajikan pada Tabel 1.

 

Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dikemukakan bahwa secara umum konsepsi siswa tentang listrik statis belum sesuai dengan konsep ilmuan dengan rata-rata presentase sebesar 77,36% dari 90 siswa. dengan rata-rata persentase mikonsepsi siswa laki-laki sebesar 75.83% dan siswa perempuan sebesar 78.89%. Untuk mengetahui kemungkinan ada atau tidak perbedaan persentase miskonsepsi antara laki-laki dan perempuan, peneliti menggunakan bantuan dari tabel chi kuadrat hitung. “Dalam tabel chi kuadrat hitung berlaku ketentuan bila chi kuadarat hitung lebih kecil dari harga tabel chi kuadrat, maka Ho diterima dan apabila lebih besar atau sama dengan harga tabel chi kuadrat maka Ho di Tolak. Hipotesis yang diajukan adalah:

Ho : tidak ada perbedaan persentase miskonsepsi antara siswa laki-laki dan perempuan

Ha : ada perbedaan persentase miskonsepsi antara siswa laki-laki dan perempuan

 

 

Pembahasan

a. Profil Miskonsepsi Siswa Tentang Listrik Statis Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui rata-rata miskonsepsi siswa pada materi listrik sebesar 77,36% dari 90 siswa kelas XII IPA yang dijadikan sampel. Pada soal nomor 1 ditemukan sebanyak 27 (75%) siswa lakilaki dan 38 (70,37%) siswa perempuan mengalami miskonsepsi. Siswa masih beranggapan jika dua benda saling digosokkan maka elektron dan proton saling berpindah. Seharusnya siswa memahami bahwa muatan yang berpindah hanya elektron. Pada soal nomor 2 ditemukan sebanyak 30 (83,33%) siswa laki-laki dan 47 (87,04%) siswa perempuan mengalami miskonsepsi. Jika muatan suatu benda setelah digosokkan mengalami kelebihan elektron maka muatan benda pada awalnya adalah negatif. Seharusnya siswa memahami bahwa muatan suatu benda pada awalnya sebelum diberi perlakuan adalah netral. Pada soal nomor 3 sebanyak 5 (13,89%) siswa laki-laki dan 13 (24,07%) siswa perempuan mengalami miskonsepsi pada indikator tetang menjelaskan interaksi antara benda bermuatan yang diberi perlakuan listrik statis. Siswa beranggapan bahwa interaksi dua buah benda yang saling kelebihan elektron akan tarik menarik. Berdasarkan indikator tentang mendeskripsikan hubungan antara muatan benda dan gaya listrik serta jarak antara benda bermuatan. Pada soal nomor 4 sebanyak 32 (88,89%) siswa laki-laki dan 48 (88,89%) siswa perempuan mengalami miskonsepsi. Siswa hanya beranggapan bahwa besar gaya listrik berbanding terbalik dengan jarak antara benda bermuatan. Pada soal nomor 5, sebanyak 36 (100%) siswa laki-laki dan 54 (100%) siswa perempuan mengalami miskonsepsi. Siswa beranggapan besar gaya tarik atau tolak antara 2 benda bermuatan diakibatkan oleh muatan pada benda tersebut. Hal ini juga terjadi pada soal nomor 6, siswa laki-laki dan perempuan juga mengalami masingmasing 100% miskonsepsi yang sama. Berdasarkan indikator tentang mendeskripsikan arah kuat medan listrik. Pada soal nomor 7 sebanyak 16 (44,44%) siswa laki-laki dan 26 (48,15) siswa perempuan mengalami miskonsepsi. siswa beranggapan bahwa pada muatan sumber positif arah medannya akan mendekati muatan sumber dan pada muatan sumber negatif arah medannya akan menjauhi muatan sumber. Miskonsepsi siswa juga terjadi pada soal nomor 10, sebanyak 27 (75%) siswa lakilaki dan 51 (94,45%) siswa perempuan mempunyai konsepsi yang sama. Berdasarkan indikator tentang menjelaskan kuat medan listrik pada suatu titik. Pada soal nomor 8 yang diketahui miskonsepsi siswa sebanyak 28 (77,78%) siswa laki-laki dan 42 (77,78%) siswa perempuan. Siswa hanya mengulang pertanyaan dalam memberikan alasan atas jawabannya. Abraham, (1992) menyatakan siswa yang hanya mengulangi pertanyaan dalam memberikan alasan atas jawabannya termasuk kedalam kategori miskonsepsi. Pada soal nomor 9 sebanyak 32 (88,88%) siswa laki-laki dan 54 (100%) siswa perempuan mengalami miskonsepsi. siswa beranggapan bahwa semakin jauh jarak suatu benda maka semakin besar kuat medan listriknya. Berdasarkan data miskonsepsi yang dianalisis, miskonsepsi siswa berasal dari siswa itu sendiri dan dari lingkungan siswa yaitu dari teman sekelas. Miskonsepsi yang berasal dari siswa itu sendiri di tunjukan oleh alasan atas jawaban siswa yang tidak lengakap. Menurut Comins (Suparno, 2005) “miskonsepsi disebabkan oleh penalaran siswa yang tidak lengkap. Alasan yang tidak lengkap dapat disebabkan karena informasi yang diperoleh atau data yang didapatkan tidak lengkap”. Akhirnya siswa menarik kesimpulan yang salah. Selain itu, pemikiran intuitif juga merupakan sumber miskonsepsi bagi siswa (Suparno, 2005). Pemikiran intuitif adalah kemampuan mengetahui atau memahami suatu tanpa dipikirkan atau dipelajari (bisikan hati) (KBBI, 2005). Miskonsepsi yang terjadi dilingkungan siswa, yaitu dari teman sekelas. Hal ini ditunjukan oleh alasan siswa yang diberikan pada jawaban yang dipilih oleh siswa, siswa memiliki alasan yang sama walaupun secara berkelompok. Hal ini terjadi pada setiap soal yang diberikan. Menurut Suparno (2005: 48) “orang muda sangat senang dalam berkelompok besama teman kelompoknya. Dalam kelompok ini biasanya ada yang didominasi oleh beberapa orang, biasanya siswa akan mudah terpikat pada apa yang diungkapkan, dipikirkan, dan dibuat oleh siswa yang dominan tersebut. Banyak siswa yang tidak kritis terhadap kesalahan temannya, terlebih siswa yang dianggap dekat dan pandai”. Dalam hal ini siswa mendapat informasi yang berasal dari sumber yang mengalami miskonsepsi, maka tidak mustahil bagi siswa lain untuk tidak mengalami miskonsepsi dalam menjawab soal.

 

SIMPULAN DAN SARAN

 Simpulan

 Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa persentase miskonsepsi pada siswa kelas XII IPA SMA Negeri 9 pontianak tentang listrik statis sebesar 77,36%. Secara khusus, kesimpulan penelitian ini adalah: 1. Profil miskonsepsi siswa tentang listrik statis adalah sebagai berikut: a) sebanyak 75% siswa laki-laki dan 70,37%) siswa perempuan beranggapan bahwa jika dua benda saling digosokkan maka elektron dan proton saling berpindah. b) sebanyak 83,33% siswa laki-laki dan 87,04% siswa perempuan beranggapan bahwa jika muatan suatu benda setelah digosokkan mengalami kelebihan elektron maka muatan benda pada awalnya adalah negatif. c) sebanyak 13,89% siswa laki-laki dan 24,07% siswa perempuan beranggapan bahwa interaksi dua buah benda yang saling kelebihan elektron akan tarik menaarik. d) sebanyak 88,89% siswa laki-laki dan 88,89% siswa perempuan beranggapan bahwa besar gaya listrik berbanding terbalik dengan jarak antara benda bermuatan. e) Sebanyak 100% siswa laki-laki dan 100% siswa perempuan beranggapan besar gaya tarik atau tolak antara 2 benda bermuatan diakibatkan oleh besar muatan pada benda tersebut. f) sebanyak 44,44% siswa laki-laki dan 48,15 siswa perempuan pada soal nomor 7, dan sebanyak 75% siswa laki-laki dan 94,44% siswa perempuan pada soal nomor 10 beranggapan bahwa pada muatan sumber positif arah medannya akan mendekati muatan sumber dan pada muatan sumber negatif arah medannya akan menjauhi muatan sumber. g) sebanyak 77,78% siswa laki-laki dan 77,78% siswa perempuan miskonsepsi dalam menjelaskan kuat medan listrik pada suatu titik. h) sebanyak 88,89% siswa laki-laki dan 100% perempuan beranggapan bahwa semakin jauh jarak suatu benda maka semakin besar kuat medan listrinya. 2. Tidak terdapat perbedaan persentase miskonsepsi siswa laki-laki dan perempuan. Dengan hasil uji chi kuadrat hitung sebesar 0,797 lebih kecil dari harga chi kuadrat tabel 16,92.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Camping Di pulau Tidung Kecil ( 2 hari 1 malam ) Sabtu-Minggu (Camper Fun)